Jumat, 15 April 2011

Value historis dari masa keemasan dinasti abbasiyah sekiranya tepat untuk ditawarkan untuk meronstruksi peradaban bangsa kita.

lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga masa pemerintahandinasti abbasiyah ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam . Meraka memberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini.

Sekilas itu tadi adalah gambaran dinasti Abbasiyah, selanjutnya membahas konteks bangsa kita,

rencana pembangunan gedung DPR yang anggaranya 1,6 trilyun sangat tidak logis untuk direalisasikan. menilik motif dari rencana tersebut tampaknya menurut hemat komentator tidak ada argumen yang dapat dibenarkan.

Mengingat kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa” pada pembukaan UUD 45 yang merupakan tujuan disusunnya sebagai landasan bangsa, semestinya anggota DPR lebih pandai memahaminya untuk melaksanakan consensus dan amanah luhur bangsa tersebut. Tidak kok malah bersikap seperti anak-anak yang manja.

Sikap kekanak kanakan itu berimplikasi pada kebijakan yang dihasilkan, sebagai contoh nyata pembangunan gedung baru yang mewah nan megah. Keinginan itu dalam kondisi bangsa yang seperti saat ini sangat tidak bijaksana untuk dimengerti, dan belum tepat untuk direalisasikan. Mementingkan hal yang tidak prioritas atas alasan materialism, glamorism, manjaism itu bukti bahwa pola fikir anggota DPR yang tidak berwawasan visioner dan jauh bijaksana. Tugas mulia yang mustinya diemban sebagai wakil rakyat ternyata tidak direpresentasikan dengan kebijakan yang sesuai landasan bangsa UUD 45 dan tidak berdasar pada pemikiran demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, justru ditampilkan dalam bentuk kemanjaan, kekanak-kanakan, keglamoran, yang tidak melihat kondisi dan situasi rakyat.

Sepertinya kita perlu mengingat kembali pernyataan Guru bangsa K.H. Gus Dur yaitu “DPR seperti anan TK”, bahkan beliau sempat mengeluarkan dekrit pembubaran DPR karena kondisi DPR yang sangat memperihatinkan.

Terlepas dari kritik tersebut, Menurut hemat komentator,

Merekonstruksi dari masa zaman pemerintah abbasiyah yang kebijakan politiknya sangat visioner, sekiranya perlu ditawarkan kembali untuk mensikapi kondisi pendidikan bangsa kita. Perlu ada political will dari petinggi negara yang dalam hal ini legeslatis untuk perhatian terhadapat pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Seharusnya anggota DPR bersikap arif dalam mensikapi hal-hal yang prioritas dalam rangka pembangunan bangsa dari segala aspek yang kuncinya terletak pada pendidikan.

Dengan Sedikit sikap “tirakat” yang dipesankan gugu-guru kita, menanggalkan keinginan pembangunan gedung yang bernilai 1,6 trilyun sekiranya dapat dialihkan untuk hal-hal prioritas yaitu memberikan perhatian, dorongan,fasilitas terhadap pendidikan, kesejahteraan masyarakat, menghidupkan ekonomi rakyat, mengentaskan kemiskinan, dan hal-hal lain yang logis, realistis dan bermanfaat untuk dilaksanakan.

Sikap “tirakat”/ kesungguhan disini merupakan solusi yang ditawarkan komentator yang direkonstruksi dari kejayaan dinasti Abbasiyah yang memprioritaskan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai salah satu indicator kemajuan suatu peradaban. Para kholifah dimasa abbasiyah bertirakat untuk tidak ekspansi namun bersungguh-sungguh perduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.